Banyak usaha kecil, apalagi yang dimulai dari rumah atau bareng orang terdekat, awalnya cukup jalan pakai media sosial aja. Klien datang dari teman, keluarga, atau kenalan—dan itu works banget di awal. Tapi makin lama, makin banyak yang nanya: kapan ya usaha kecil kayak gini perlu punya website juga?
Daftar Isi:
Pertama-tama, kita tahu bahwa banyak usaha kecil (termasuk usaha rumahan atau usaha sampingan) berjalan lancar berkat media sosial. Entah itu Instagram, Facebook, TikTok, atau WhatsApp, platform-platform tersebut udah terbukti efektif untuk:
Menampilkan Produk/Layanan secara Personal
Biasanya yang tampil di depan bukan brand atau bisnisnya, melainkan sosok pemiliknya. Misalnya, kamu jualan kue rumahan—unggah foto kamu lagi membuat kue sambal di caption, ceritakan resep turun-temurun, dan voilà, orang merasa “kenal” sama kamu sebelum mencoba produknya.
Mengandalkan Rekomendasi dan Word-of-Mouth
Klien datang karena referensi teman, keluarga, atau kenalan. Jadi, orang beli bukan karena website yang keren, tapi karena rasa percaya kepada “si empunya” usaha. Kalau teman A puas, mereka akan rekomendasi ke teman B, dan seterusnya. Ini lumayan banget untuk tahap awal.
Fleksibilitas dan Biaya Minim
Buka akun Instagram atau Facebook itu gratis, cuma modal kuota internet dan sedikit waktu untuk update konten. Kalau jago foto produk dan bikin caption menarik, bisa langsung “jualannya” nongol di timeline orang-orang.
Fokus pada Penjualan One-by-One atau Pre-Order
Banyak usaha rumahan yang memang modelnya pre-order (PO). Misalnya, kue kering lebaran, kaos limited edition, atau jasa tato temporer. Semuanya “one by one”, kontak lewat DM/WA, bayar DP, konfirmasi desain, kirim. Semua beres di chat.
Catatan Singkat
Model ini cocok selama kelompok klien masih lingkaran teman, keluarga, atau komunitas kecil, lokasi layanan masih bersifat lokal (misal: antar di area kota/kabupaten tertentu), dan volume transaksi masih bisa di-handle satu per satu lewat chat.
Namun, di sinilah kita mulai masuk ke topik utama: “Kapan usaha kecil perlu bikin website?”
Sebelum membahas “tanda-tanda” atau “momen” yang membuat kamu perlu website, penting memahami fase perkembangan usaha kecil:
Biasanya fokus pada validasi ide dan mencari pelanggan pertama, yang umumnya berasal dari kenalan terdekat. Platform utama adalah media sosial (Instagram, Facebook, WhatsApp, TikTok). Kelebihannya, biaya sangat minim dan cepat mempromosikan diri di jaringan terdekat.
Saat mulai mencari pelanggan baru di luar lingkaran terdekat, tantangannya adalah melebarkan jangkauan tanpa kehilangan citra personal yang sudah terbentuk. Media sosial masih jadi andalan, tapi iklan berbayar (Facebook Ads, Instagram Ads, TikTok Ads) mulai dipertimbangkan.
Ketika fokus beralih ke optimasi proses, membangun brand awareness, dan menata layanan secara lebih sistematis. Tantangan pada fase ini meliputi manajemen order, katalog produk, stok, sistem pembayaran, layanan pelanggan, hingga testimoni yang terorganisir. Saat itulah website mulai jadi opsi yang serius untuk dimanfaatkan.
Perjalanan tiap usaha pasti berbeda-beda. Ada yang langsung melejit dan butuh website di bulan kedua, ada yang awet bertahan pakai media sosial sampai tiga tahun. Namun, umumnya tanda-tandanya hampir sama. Yuk, kita kulik satu per satu.
Kalau kamu sering reply DM atau WA bertubi-tubi dengan pertanyaan seperti “Berapa harga ini lagi?”, “Gimana cara order?”, “Lokasinya di mana?”, atau “Bisa kirim ke luar kota?”, itu tanda kalau kamu perlu punya satu tempat khusus—yaitu website—yang memuat semua informasi tersebut. Jadi, cukup kirim satu link, semua terpampang lengkap: harga, detail layanan, cara order, hingga biaya kirim per daerah.
Iklan yang efektif biasanya diarahkan ke landing page atau website, bukan sekadar kirim ke DM. Karena landing page/website dirancang khusus dengan Call-To-Action (CTA) yang jelas—misalnya “Klik tombol ini untuk beli sekarang”, “Isi form di bawah”, atau “Hubungi kami via WhatsApp”. Selain itu, pengukuran ROI (Return On Investment) iklan jadi lebih mudah karena kamu bisa pasang tracking pixel atau Google Analytics untuk melihat seberapa banyak konversi yang terjadi.
Di fase awal, order datang dari teman, keluarga, atau komunitas kecil. Tapi kalau kamu ingin memperluas jangkauan—misalnya menargetkan pelanggan di kota sebelah atau komunitas baru yang belum kenal kamu—mereka tidak akan langsung percaya hanya dengan melihat postingan Instagram. Dengan website, calon pelanggan bisa mencari review, melihat portofolio, membaca profil usaha, dan merasa lebih yakin sebelum memutuskan beli.
Tanpa website, bisnis kecilmu terasa “cuma akun medsos”. Dalam pandangan beberapa konsumen (terutama korporat atau klien B2B), punya website resmi menunjukkan kamu serius menjalankan usaha dan bisa dipercaya. Website yang lengkap dengan informasi perusahaan, testimoni, dan portofolio memberikan rasa aman bagi pelanggan untuk menyerahkan data (alamat, informasi pembayaran) di sana ketimbang DM Instagram.
Seiring bertambahnya jumlah klien dan proyek, portofolio di feed Instagram atau story hanyalah “potongan kecil”. Di website, kamu bisa membuat halaman khusus “Portofolio” lengkap dengan foto-foto high resolution, penjelasan setiap proyek, dan testimoni klien yang tertulis rapi. Ketika portofolio terstruktur, calon klien lebih mudah menilai kualitas dan gaya kerja kamu.
Banyak calon pelanggan masih mengetik di Google: “katering harian murah Tangerang”, “jasa desain logo Jakarta murah”, atau “toko handmade Surabaya”. Kalau kamu ingin menjangkau mereka, kamu perlu website yang dioptimasi SEO (Search Engine Optimization). Dengan blog atau artikel yang terstruktur, kamu bisa muncul di hasil pencarian, dan dengan mendaftarkan website di Google My Business, kamu bisa tampil di peta. Ini peluang bagus untuk organic reach, tanpa perlu pasang iklan berbayar tiap hari.
Ada banyak fitur yang susah diwujudkan di media sosial, namun mudah dibangun di website, misalnya formulir pemesanan otomatis, sistem pembayaran online, booking otomatis, katalog interaktif, sistem membership, hingga dashboard manajemen pelanggan. Jika kamu ingin fitur-fitur tersebut, website adalah solusi yang paling tepat.
Terkadang ada klien bisnis tingkat menengah atau partner potensial yang bertanya, “Boleh saya cek website resmi kalian dulu?” Atau meminta file media kit, portofolio, dan pricing di satu link. Jika kamu hanya punya Instagram, informasi seringkali terkesan “acak-acak”. Website memungkinkan kamu membuat halaman “Media Kit” atau “Download PDF” khusus, jauh lebih rapi dan praktis.
Ketika kamu sudah yakin perlu punya website, pertanyaan berikutnya adalah, “Jenis website apa saja yang cocok untuk bisnis kecil?” Beberapa tipe paling umum dan fleksibel antara lain:
Landing page adalah halaman web tunggal yang dirancang untuk satu tujuan tertentu, misalnya promosi produk/jasa, mengumpulkan leads, atau mengarahkan pengunjung pada satu Call-To-Action (CTA) spesifik. Kelebihannya adalah biaya pengembangan relatif murah, waktu pembuatan cepat (bisa selesai dalam beberapa hari), dan fokus pada satu pesan/penawaran. Cocok untuk promo produk baru, pre-order, mengumpulkan email, atau mempromosikan acara.
Ini adalah website multi-halaman—biasanya berisi “Beranda”, “Tentang Kami”, “Layanan/Produk”, “Portofolio/Testimoni”, dan “Kontak”. Dengan website profil, kamu menampilkan informasi usaha secara lebih komprehensif, branding jadi lebih kuat, dan calon klien mudah menavigasi informasi yang dibutuhkan. Cocok untuk usaha jasa, UMKM, atau profesional (freelancer, konsultan) yang perlu menunjukkan portofolio dan paket layanan.
Jika usaha kamu menjual produk fisik atau digital secara rutin, website e-commerce adalah pilihan tepat. Dilengkapi keranjang belanja, katalog produk, sistem pembayaran otomatis, dan manajemen stok. Pengunjung bisa belanja 24/7, checkout otomatis, dan integrasi payment gateway memudahkan transaksi. Platform populer seperti WordPress + WooCommerce, Shopify, atau kombinasi marketplace (Tokopedia/Shopee) sambil punya website sendiri sebagai “etals online” juga bisa menjadi opsi.
Website ini fokus pada konten artikel, berita, atau informasi yang selalu diperbarui secara rutin. Cocok bagi usaha yang mengandalkan content marketing—misalnya katering sehat yang menulis resep dan tips diet, jasa digital marketing yang berbagi insight seputar promosi online, atau komunitas otomotif yang menulis review modifikasi. Blog membantu menjaring traffic organik via SEO, dan membangun reputasi sebagai “ahli” di bidang tertentu.
Dirancang khusus untuk menampilkan karya atau proyek yang pernah dikerjakan oleh pekerja kreatif seperti desainer, fotografer, videografer, arsitek, atau developer. Biasanya berupa galeri visual yang menonjolkan hasil karya terbaik tanpa gangguan fitur lain. Dengan portofolio yang terstruktur, calon klien lebih mudah menilai kualitas dan gaya kerja kamu.
Situs ini hanya bisa diakses oleh anggota yang login, dengan fitur seperti forum diskusi, konten eksklusif, atau kursus online. Cocok untuk komunitas, pelatihan online, atau digital product berbasis langganan. Jika kamu memiliki konten premium atau ingin membangun komunitas khusus, website membership bisa menjadi sumber pendapatan tambahan.
Lebih dari sekadar website, tipe ini adalah aplikasi berbasis web—misalnya CRM kecil, sistem kehadiran online, atau dashboard monitoring penjualan. Cocok untuk perusahaan menengah-besar atau startup digital yang membutuhkan sistem manajemen internal. Fitur seperti input data, laporan otomatis, hingga notifikasi real-time bisa disematkan di sini.
Landing page (halaman pendaratan) sering kali jadi langkah awal yang paling mudah dan murah bagi usaha kecil untuk memiliki “titik konversi” digital. Landing page adalah halaman web tunggal yang dirancang untuk mencapai satu tujuan spesifik: mengumpulkan leads, mempromosikan pre-order, flash sale, atau mengarahkan pengunjung ke tombol WhatsApp atau form order.
Kenapa landing page banyak dicari?
Cepat Dibuat, Biaya Terjangkau
Banyak template gratis atau berbayar di platform WordPress (Elementor, Beaver Builder) atau platform landing page khusus (Unbounce, Instapage, Leadpages) yang siap pakai, jadi waktu pembuatan bisa sangat singkat.
Mudah Dipelajari oleh Non-Teknis
Builder visual (drag-and-drop) membuat pemula bisa menyusun halaman tanpa paham kode. Cukup pilih template, ganti gambar, teks, dan CTA, lalu publish.
Fleksibel untuk Dibentuk Sesuai Kebutuhan
Kamu bisa menyesuaikan tampilan dengan brand: ganti logo, warna, font, layout, dan menampilkan elemen-elemen penting seperti headline, subheadline, daftar fitur, testimoni, dan CTA yang jelas.
Responsif (Mobile-Friendly)
Kebanyakan template landing page sudah dirancang responsif, sehingga tampilan bagus baik di desktop maupun smartphone.
Fokus pada Satu Tujuan (One Conversion)
Berbeda dengan website multi-halaman, landing page tidak punya menu “Tentang Kami”, “Blog”, atau “Produk Lainnya”. Semua elemen diarahkan untuk membuat pengunjung melakukan satu tindakan spesifik—misal isi form, klik tombol order, atau hubungi WhatsApp.
Situasi di mana landing page sudah memadai:
Promo Produk Baru dalam Waktu Terbatas
Misalnya kamu launching kue kekinian edisi lebaran, cukup bikin landing page khusus kampanye dengan info harga, foto, testimoni, tombol WhatsApp, dan deadline pre-order.
Pengumpulan Leads (Email atau Kontak WA)
Layanan konsultasi atau kursus online bisa membuat landing page tawarkan ebook gratis, di mana pengunjung harus isi email untuk mengunduh ebook tersebut. Dengan begitu, kamu mengumpulkan database email untuk newsletter.
Event Khusus (Workshop, Webinar, Gathering Komunitas)
Buat landing page berisi agenda, pembicara, harga tiket, dan form pendaftaran. Semuanya terpusat di satu halaman, memudahkan calon peserta memahami detail acara.
Validasi Ide Sebelum Bikin Website Lengkap
Misalnya kamu ingin jual merchandise komunitas motor. Coba dulu bikin landing page untuk melihat respons pasar. Jika permintaan tinggi, baru deh upgrade ke website e-commerce penuh.
Banyak kalangan beranggapan bahwa pembuatan website pasti mahal, padahal sebenarnya ada berbagai pilihan yang sesuai dengan budget mulai dari sangat minim hingga yang lebih premium. Berikut beberapa opsi:
Domain: Rp 100.000–Rp 200.000 per tahun (tergantung ekstensi seperti .com, .co.id, .id).
Hosting: Mulai Rp 20.000–Rp 100.000 per bulan (shared hosting).
Tema premium (opsional): Rp 200.000–Rp 800.000 sekali bayar.
Plugin premium (SEO, keamanan, page builder premium, dsb): Rp 200.000–Rp 1.500.000 per tahun.
Jadi, dengan total Rp 500.000–Rp 2.000.000 per tahun, kamu sudah bisa memiliki website dengan tampilan yang menarik dan fitur dasar lengkap.
Open source dengan komunitas besar, jadi banyak dokumentasi dan tutorial yang tersedia.
Ribuan tema dan plugin (baik gratis maupun berbayar) untuk berbagai kebutuhan: landing page, toko online, blog, portofolio, dsb.
Mudah dikustomisasi tanpa perlu coding, asalkan kamu bersedia belajar dasar-dasar penggunaan page builder seperti Elementor atau Brizy.
SEO friendly (plugin seperti Yoast SEO atau Rank Math membantu optimasi on-page).
Butuh sedikit waktu untuk belajar instalasi, update tema/plugin, backup, dan pengaturan keamanan dasar.
Perlu maintenance rutin: update plugin/tema/konten, cek keamanan, dan backup secara teratur.
Risiko website “dibodohi” kalau kamu pakai hosting atau jasa developer asal-asalan. Banyak developer amatir yang menawarkan harga miring, tapi hasilnya buruk: website lambat, tidak responsif, rawan error, atau bahkan rawan kena malware.
Pilih penyedia hosting yang memiliki reputasi baik di Indonesia (misalnya Niagahoster, Rumahweb, Domainesia).
Pastikan hosting sudah mendukung PHP versi terbaru, memiliki SSL gratis (Let’s Encrypt), backup otomatis, dan uptime minimal 99,9%.
Sebaiknya pilih paket dengan storage minimal 5–10 GB jika kamu mengunggah banyak gambar atau video.
Wix / Squarespace: Rp 100.000–Rp 300.000 per bulan untuk paket bisnis dasar.
Shopify untuk e-commerce: mulai dari USD 29/bulan (sekitar Rp 430.000) ditambah biaya transaksi jika tidak pakai Shopify Payments.
Server dan keamanan sudah ditangani penyedia, jadi kamu tinggal login, membuat, lalu publish tanpa repot instalasi.
Template built-in yang profesional dan responsif.
Customer support 24/7 siap membantu jika ada masalah teknis.
Kurang fleksibel kalau kamu butuh fitur kustom spesifik selain yang disediakan platform.
Biaya langganan harus terus berjalan—jika berhenti berlangganan, website otomatis nonaktif.
Untuk e-commerce, biaya transaksi (Shopify) bisa terasa cukup besar jika volume penjualan meningkat.
Platform: Blogspot, Medium, LinkedIn Publisher.
Kelebihan:
Nol biaya domain/hosting.
Mudah dibuat, tinggal sign up dan langsung menulis.
Kekurangan:
Branding terbatas karena domain jadi seperti namabisnis.blogspot.com atau medium.com/@namabisnis.
Fitur SEO dan desain yang kurang leluasa, karena kamu bergantung kebijakan platform tersebut.
Bukan “rumah sendiri” karena sewaktu-waktu platform bisa mengubah kebijakan atau layout sehingga kontenmu terpengaruh.
Catatan Penting
Jika budget sangat terbatas dan kamu masih ragu-ragu, alternatif awal bisa mulai di blog gratisan sebagai “proof of concept”. Jika respons positif, baru upgrade ke platform berbayar atau WordPress.
Setelah tahu berbagai jenis website dan pilihan platform, berikut langkah-langkah agar tidak asal bikin, tapi sesuai kebutuhan dan budget:
Apakah kamu hanya perlu “kantor digital” untuk info dasar seperti company profile?
Apakah kamu ingin jualan produk secara rutin (e-commerce)?
Apakah kamu hanya butuh landing page untuk kampanye tertentu?
Dengan tujuan yang jelas, kamu bisa memilih jenis website yang paling tepat dan menghemat biaya.
Seberapa banyak dana yang dapat dialokasikan untuk domain, hosting, dan jasa developer/desainer (jika outsource)?
Apakah kamu mau belajar membuat sendiri (DIY), atau lebih nyaman menyerahkan ke profesional?
Jika outsourcing, survei beberapa developer/desainer: cek portofolio, minta testimonial, dan minta estimasi biaya serta timeline pengerjaan.
Hanya butuh “Info & Portofolio”: WordPress dengan tema gratis/premium minimal, Wix.
Toko Online: WordPress + WooCommerce, Shopify, atau pakai marketplace sambil punya landing page khusus.
Landing Page Sederhana: Elementor (WordPress), Unbounce, Leadpages, atau Google Sites bagi yang benar-benar minimalis.
Blog/Konten Rutin: WordPress atau Blogger.
Jika butuh landing page untuk pre-order kue lebaran, WordPress + plugin landing page kemungkinan sudah cukup.
Namun jika dalam setahun kamu berencana menambah toko online, blog, dan area membership, pertimbangkan langsung bangun website multi-fungsi (WordPress full site) agar nanti tidak perlu migrasi ulang saat skala usaha semakin besar.
Pilih hosting berkualitas agar website tidak sering down atau loading lambat.
Pastikan tersedia backup otomatis (harian/mingguan), baik di server hosting maupun cloud storage (Google Drive, AWS S3).
Update plugin, tema, dan konten secara rutin untuk menghindari celah keamanan.
Pasang SSL Certificate (https://) — banyak hosting sudah include SSL gratis via Let’s Encrypt. Google memprioritaskan situs aman, dan pelanggan juga merasa lebih percaya jika url-nya bermula “https://”.
Buat konten berkualitas dengan judul yang relevan, deskripsi jelas, dan kata kunci (keyword) sesuai target pasar.
Optimasi kecepatan situs: gunakan tema ringan, kompres gambar sebelum upload, dan pasang plugin caching seperti WP Super Cache atau W3 Total Cache.
Pastikan tampilan responsif di berbagai perangkat, terutama smartphone karena sebagian besar traffic di Indonesia berasal dari mobile.
Buat kalender konten: misalnya satu artikel blog per bulan, update produk baru setiap minggu, dan bagikan testimoni pelanggan.
Integrasikan media sosial: tambahkan tombol share ke Instagram, Facebook, WhatsApp di website agar orang mudah memviralkan konten atau produkmu.
Mulai kumpulkan email melalui form newsletter agar bisa mengirim promo atau edukasi rutin ke subscribers.
Jika kamu kurang yakin mau buat website apa, kamu bisa konsultasi mengenai pembuatan website yang tepat dan sesuai dengan kebutuhanmu dulu.
Jelaskan visi usaha, minta roadmap sederhana:
Tahap awal: landing page + beberapa halaman company profile.
Tahap berikutnya: integrasi payment gateway.
Tahap selanjutnya: tambah blog/SEO.
Dengan begitu kamu bisa menyusun anggaran per fase, bukan membayar mahal sekaligus di awal.
Bagi banyak orang awam, membuat website terkesan sulit dan mahal, sehingga rentan pada penipuan jasa web developer abal-abal. Berikut beberapa tips agar tidak jadi korban:
Bila ada tawaran “website e-commerce lengkap, custom fitur chatbot, SEO on-page, plus maintenance setahun hanya Rp 500.000”, patut dicurigai.
Bandingkan minimal tiga penawaran: apakah sudah termasuk domain, hosting, desain template gratis atau kustom, jaminan perbaikan bug, dan akses penuh pada hosting serta domain.
Minta link website yang pernah mereka buat, bukan cuma screenshot. Akses dan test fungsi website tersebut: perhatikan kecepatan loading, responsif di HP, dan fitur-fitur dasar.
Jika developer mengklaim punya banyak klien besar tapi portofolio hanya berupa akun Instagram atau kumpulan screenshot PDF, hati-hati.
Jangan sekadar “ijinkan saja”, minta draft kerja sama tertulis yang mencakup deskripsi pekerjaan (contohnya: buat landing page, integrasi WhatsApp API, pasang Google Analytics), durasi pengerjaan (misal 2 minggu), garansi maintenance atau revisi (berapa kali revisi gratis), dan skema pembayaran (apakah bayar bertahap atau full di muka).
Banyak kasus di mana pemilik usaha akhirnya tergantung pada developer karena tidak diberikan akses CPanel atau akun domain. Segera minta username/password CPanel, FTP, dan akun domain. Setelah website selesai, ganti password jika perlu.
Pastikan kamu dan developer menggunakan bahasa dan istilah yang sama. Gunakan WhatsApp Group atau email sebagai channel komunikasi sehingga semua diskusi terdokumentasi. Jika ada revisi, catat detailnya seperti “Header diubah warna biru toska ke #2A2A2A sesuai brand”, agar tidak terjadi miskomunikasi.
Tidak perlu sampai bisa coding, tapi pahami istilah-istilah dasar seperti hosting, domain, SSL, CMS, plugin, tema, responsive, dan speed optimization. Dengan begitu, ketika developer menjelaskan sesuatu, kamu bisa menilai apakah penjelasannya masuk akal.
Idealnya developer memberikan garansi teknis minimal 1–3 bulan setelah website live. Pastikan ada opsi paket maintenance (update plugin, backup, cek keamanan). Kalau tidak ada, siapkan jadwal sendiri untuk rutin meng-update agar situs selalu sehat.
Jika sekarang kamu merasa sudah saatnya, ikuti panduan langkah demi langkah agar proses pembuatan website berjalan mulus:
Tentukan tujuan utama: apakah butuh info dasar (company profile), toko online, blog, atau landing page khusus kampanye.
Susun konten awal: logo usaha (PNG/JPG resolusi baik), foto produk/portofolio (minimal 1200×800 px), deskripsi singkat usaha, dan kumpulkan testimoni singkat.
Pilih struktur halaman dan fitur: landing page, website profil, e-commerce, atau tambahan blog/SEO jika dibutuhkan.
Pilih nama domain yang singkat, mudah diingat, dan relevan (misal: kateringlezat.com, grafikafoo.net). Ekstensi .com, .co.id, atau .id biasanya lebih profesional.
Pilih hosting yang mendukung CMS pilihanmu, dengan fitur minimal SSL gratis, cPanel, backup otomatis, dan uptime minimal 99,9%.
Pastikan kapasitas storage sesuai (misalnya minimal 5–10 GB) jika akan menyimpan banyak gambar atau video.
Lakukan pembayaran (transfer bank, kartu kredit, e-wallet), dan manfaatkan diskon jika bayar 1–2 tahun sekaligus.
Instal WordPress otomatis via cPanel (biasanya tersedia di Softaculous). Isi detail domain, nama situs, username admin, dan password kuat.
Ubah permalink ke “Post Name” (Settings → Permalinks) agar URL SEO-friendly (contoh: domain.com/layanan).
Instal plugin dasar:
Plugin SEO: Rank Math atau Yoast SEO.
Plugin security: Wordfence (free).
Plugin backup: UpdraftPlus (free).
Plugin formulir kontak: Contact Form 7 atau WPForms Lite.
Buat halaman awal: Beranda, Tentang, Layanan, Kontak.
Pilih tema atau page builder:
Tema gratis: Astra, OceanWP, GeneratePress—ringan dan cepat.
Page builder: Elementor (gratis/premium), Brizy, Beaver Builder.
Jika mau fitur lebih lengkap dan estetika premium, bisa beli lisensi tema di ThemeForest atau ThemeIsle.
Pasang header section dengan gambar background keren dan headline singkat.
Tambahkan subheadline ringkas (misal: “Jasa katering rumahan di Tangerang | Pre-Order Lebaran 2025”).
Letakkan tombol CTA (“Pesan Sekarang”) yang mengarah ke form order atau WhatsApp.
Tambahkan tiga poin keunggulan (misal: resep tradisional, bahan steril, pengiriman tepat waktu).
Sertakan testimoni singkat atau angka klien puas.
Ceritakan latar belakang usaha (“Awal mula DapoerAyum dirintis di dapur nenek …”).
Tambahkan foto tim atau owner agar terasa personal.
Jelaskan visi dan misi (“Menyajikan kue rumahan autentik, berkualitas, dan nikmat seperti di rumah sendiri.”).
Susun kategori (misal: kue kering, kue basah, rice box, snack box).
Untuk tiap produk: foto, deskripsi singkat, harga, dan link “Order via WhatsApp” atau “Form Pemesanan”.
Sertakan informasi ongkir per wilayah (Tangerang, Serpong, BSD, dsb).
Buat grid tiga kolom yang responsif, menampilkan foto-foto high-res dengan lightbox untuk tampilan detail.
Tampilkan testimoni klien dengan nama, foto kecil (jika memungkinkan), dan teks singkat dalam slider atau grid agar tampak dinamis.
Masukkan Google Maps embed untuk lokasi fisik, jika ada.
Cantumkan alamat lengkap, nomor WhatsApp, email, dan jam operasional.
Tambahkan form kontak: Nama, Email, Pesan, dengan CAPTCHA atau plugin spam-filter agar tidak spam.
Letakkan ikon Instagram, Facebook, TikTok, dan YouTube di footer atau header, yang terbuka di tab baru.
Gunakan plugin seperti “Sassy Social Share” agar pengunjung bisa membagikan artikel blog atau halaman produk ke media sosial.
Pakai plugin “Click to Chat” agar tombol WhatsApp muncul sticky di pojok bawah layar. Pengunjung tinggal klik, chat langsung ke WhatsApp dengan pesan praset.
Daftar Google Analytics (gratis) dan verifikasi website melalui plugin “Site Kit by Google” agar kamu bisa memantau data traffic: jumlah pengunjung, sumber traffic, halaman paling populer, dsb.
Instal plugin caching seperti “WP Super Cache” atau “W3 Total Cache”.
Kompres gambar sebelum upload (pakai TinyPNG online atau plugin “Smush”).
Pakai CDN gratis seperti Cloudflare agar situs lebih cepat diakses dari berbagai wilayah.
Selain poin-poin utama di atas, ada beberapa hal lain yang sering terlewatkan, tetapi sama pentingnya:
Walau usahanya kecil, jika website mengumpulkan data pelanggan (nama, email, nomor telepon), secara hukum kamu perlu memiliki “Kebijakan Privasi”.
Jika ada transaksi online, sebaiknya ada halaman “Syarat & Ketentuan” yang menjelaskan kebijakan refund, garansi, dan hal-hal legal lainnya.
Banyak template gratis di internet; tinggal cari contoh kebijakan privasi untuk toko online kecil, lalu sesuaikan dengan kondisi yang kamu miliki. Pastikan setiap form (newsletter, pemesanan) mencantumkan checkbox “Saya menyetujui kebijakan privasi” atau “I agree to terms & conditions”.
COD (Cash on Delivery): Cocok untuk wilayah lokal seperti antar di Tangerang atau Jakarta Selatan.
Transfer Bank / Virtual Account: Integrasi dengan Midtrans atau Xendit memudahkan pelanggan membayar via mobile banking, ATM, atau e-wallet (OVO, GoPay, Dana).
Payment Gateway: Dengan plugin WooCommerce + Midtrans, proses checkout jadi otomatis dan pelanggan bisa membayar langsung tanpa repot.
Supaya kamu tahu dari mana calon pelanggan datang (Google, Instagram, Facebook), pelajari metrik dasar seperti page views, session duration, bounce rate, sumber traffic, dan konversi (form submission atau klik tombol order).
Tools gratis seperti Google Analytics dan Google Search Console sangat membantu memantau performa website.
Jika punya blog, tulislah minimal satu artikel per bulan. Pilih tema yang relevan, misalnya “Cara Memesan Katering Wedding di Tangerang” atau “Trend Desain Undangan Digital 2025”. Gunakan heading (H1, H2, H3) dengan struktur baik agar mudah dibaca dan ramah SEO.
Sertakan video singkat seperti proses pembuatan kue atau behind the scene—unggah di YouTube dan embed ke website. Video meningkatkan durasi kunjungan (session duration), yang baik untuk SEO.
Buat infografis untuk menampilkan data atau tips, misalnya “5 Cara Sederhana Promosi Online untuk UMKM”. Infografis bisa dishare di media sosial, sedangkan versi lengkap bisa di website.
Jika website sudah ramai dan transaksi meningkat, pertimbangkan mendaftarkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Badan Usaha atau Nomor Induk Berusaha (NIB) di OSS.
Mulai pembukuan sederhana: catat pemasukan dan pengeluaran meski usaha kecil.
Jika punya tim (misalnya admin media sosial atau orang bantu packing), buat kontrak kerja sederhana agar lebih terjamin secara hukum.
Amati website kompetitor di niche yang sama: apa konten yang mereka tampilkan, seberapa sering update blog, fitur apa yang mereka tawarkan (chatbot, katalog interaktif, live chat, testimoni video).
Ambil kelebihan mereka dan perbaiki kekurangannya, misalnya jika kompetitor loading-nya lambat, pastikan website-mu lebih cepat; jika kurang punya testimoni tertulis, kamu bisa menonjolkan testimoni video atau rating bintang.
Coba jawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
Berapa banyak chat/DM/WA yang saya terima setiap hari untuk pertanyaan serupa?
Jika sudah di atas 10 kali sehari, saatnya bikin website agar informasi lengkap bisa diakses sekali klik.
Apakah saya sering ragu menyarankan calon klien untuk cek Instagram saja?
Jika pernah berpikir, “Ah, orangnya belum percaya kalau saya cuma punya Instagram,” itu tanda kamu perlu website.
Apakah teman-teman di komunitas bisnis sudah punya website?
Pergaulan bisnis sering mendorong kamu agar punya platform yang setara, sehingga calon klien merasa “setara” ketika dibandingkan.
Apakah saya ingin mengembangkan usaha di luar daerah asal?
Jika jawabannya “iya,” website adalah alat paling efektif untuk memperluas pasar tanpa harus membuka cabang fisik.
Jika kebanyakan jawabanmu “iya,” segeralah mulai merancang website. Namun jika masih ragu dan budget terbatas, mulailah dengan landing page sederhana sebagai percobaan. Pelajari sedikit menjelang peluncuran: cara menulis konten menarik, cara foto produk yang bagus, dan dasar SEO. Semua itu bukan hal teknis yang hanya untuk “orang IT”—kamu bisa pelajari lewat tutorial YouTube gratis atau bergabung di komunitas UMKM digital.
Intinya, memiliki website bukan jaminan jualan langsung meledak, apalagi kalau kontennya asal-asalan. Website hanyalah alat—“rumah digital” untuk usaha kecilmu. Yang paling penting:
Konten Berkualitas
Foto dan tulisan yang jujur, menarik, dan relevan dengan target pasar.
Pelayanan Konsisten
Tanpa perlu mengetik berulang di DM, tapi tetap siap melayani via chat atau email.
Update Rutin
Artikel blog, produk baru, portofolio, dan testimoni perlu diperbarui agar pengunjung merasa selalu ada yang baru saat kembali.
Konsistensi Brand
Gunakan warna brand yang sudah dipilih (#2A2A2A untuk warna primer, misal) dan font konsisten (Garet untuk heading, Open Sans untuk teks, Amsterdam Four untuk aksen). Ini membuat kesan profesional.
Analisis & Adaptasi
Lihat data dari Google Analytics, dengarkan feedback pelanggan, dan ikuti tren media sosial—sesuaikan strategi konten dan fitur website-mu agar terus relevan.
Jadi, saatnya kamu melangkah lebih jauh. Jika saat ini kamu merasa masih keasyikan chat tanpa henti, nanti kamu akan teringat momen ketika akhirnya punya website dan orderan jadi tertata rapi secara otomatis. Setidaknya, kamu memiliki “rumah” yang memudahkan pelanggan mengenal usaha kecilmu dengan cara yang profesional, tanpa kehilangan sentuhan personal yang selama ini jadi kekuatan utama.
Apakah usaha kecil perlu punya website? |
|
Iya, website bisa bantu usaha kecil terlihat lebih profesional, mudah ditemukan di Google, dan memberi informasi lengkap tanpa harus bolak-balik di chat.
|
Kapan waktu yang tepat untuk usaha kecil mulai bikin website? |
|
Kalau kamu sudah punya produk atau jasa yang jelas, audiens yang mulai berkembang, dan ingin terlihat lebih kredibel—itulah saatnya punya website.
|
Apa manfaat website untuk usaha rumahan atau bisnis sampingan? |
|
Website bikin bisnis lebih mudah dicari, bisa jualan 24/7, dan tampil lebih terpercaya di mata pelanggan. Apalagi kalau ingin dikembangkan ke level yang lebih serius.
|
Apa beda antara punya akun media sosial dan punya website? |
|
Media sosial bagus untuk engagement dan promosi, tapi website memberi kendali penuh atas informasi, tampilan brand, dan fitur-fitur seperti toko online, booking, atau katalog.
|
Apakah bikin website itu mahal dan susah untuk usaha kecil? |
| Nggak juga. Sekarang ada banyak solusi website murah bahkan gratis yang user-friendly. Kamu bisa mulai dari website sederhana, lalu dikembangkan seiring waktu. |